Jl. Sutera Tiara 3 No.20, Alam Sutera, Tangerang, Banten 15143
(081) 11-00-99-33

Penggunaan Garam Untuk KOI

Salinitas merupakan salah satu parameter penting untuk kolam KOI, salinitas mengukur besarnya kadar garam (NaCl) yang terlarut diair.   Banyak pro dan kontra mengenai penggunaan garam di kolam sebagian mengatakan garam diperlukan untuk membasmi bakteri dan parasit sedangkan sebagian lagi mengatakan garam tidak diperlukan karena ikan KOI tergolong ikan air tawar.   Untuk mengetahui lebih jelasnya dapat diterangkan dalam uraian dibawah ini.

Berdasarkan salinitas air sebagai lingkungan hidup ikan dibagi menjadi,

  1. air tawar (salinitas 0 – 0,5 ppt)
  2. air payau (salinitas 0,5 – 30 ppt)
  3. air asin/laut (salinitas diatas 30 ppt)

1 ppt = 1000 ppm = 0,1 %

Secara alamiah cairan dalam tubuh ikan telah berevolusi atau beradaptasi sesuai dengan kadar garam lingkungan hidupnya, ikan air tawar tidak akan bisa hidup di air laut dan sebaliknya.  Apa yang terjadi jika ikan air tawar ditaruh didalam air laut, air laut memiliki kadar garam tinggi dan memiliki tekanan tinggi, secara alamiah air akan bergerak dari tekanan tinggi  ke tempat yang bertekanan rendah, sehingga banyak air yang masuk kedalam tubuh ikan yang tekanannya lebih rendah.  Untuk mengkompensasinya maka ikan harus mengeluarkan air melalui ekresi dan sekresi (pernafasan dan air seni/keringat) akibatnya ikan akan mengalami dehidrasi sebelum mati menyusut.    Sebaliknya yang terjadi jika ikan air laut ditaruh didalam air tawar, tekanan cairan tubuh ikan air laut yang lebih tinggi akan keluar akibatnya ikan harus mengkonpensasi kehilangan cairan tersebut dengan minum air sebanyak-banyaknya sampai akhirnya mati dengan tubuh membengkak karena penuh air.

Kemampuan ikan menyeimbangkan tekanan akibat perbedaan kadar garam antara cairan sel tubuh dengan lingkungannya disebut osmoregulasi.  Osmoregulasi membutuhkan energi 10-15 % dari pakan yang dikonsumsinya dan melibatkan fungsi organ tubuh seperti ginjal, insang dan usus.  Besarnya kadar garam pada cairan tubuh/sel ikan KOI adalah 9 ppt, jika salinitas lingkungan hidup ikan mencapai nilai yang sama maka nilai tersebut adalah batas maksimal ginjal berfungsi melakukan proses osmoregulasi, atau ikan berada pada kondisi kritis.  Jika ikan KOI bekerja sangat keras untuk osmoregulasi akan mengakibatkan ikan stress yang berdampak turunnya sistem kekebalan tubuh.

Perlukah penggunaan garam untuk perawatan ikan KOI? jawabnya perlu namun harus penuh kehati-hatian jika kita memberi garam terlalu berlebihan justru akan mengakibatkan ikan stress.

Berikut diuraikan kadar garam atau salinitas untuk keperluan pemeliharaan ikan KOI.

 

Penggunaan garam untuk kolam

Pemberian garam dapat dilakukan dikolam dengan kadar kurang dari 4 ppt, lebih dari itu ikan akan banyak mengeluarkan lendir yang dapat mengakibatkan warna terlihat pudar.  Kadar garam yang ideal untuk KOI adalah 0,5 – 3 ppt dimana proses osmoregulasi berada pada kondisi optimum.   Untuk mencapai dan memastikan kadar garam pada posisi ideal kita wajib mengukurnya menggunakan salinometer tidak bisa langsung memberikan langsung di kolam sebab sumber air yang dipakai sudah mengandung garam 0 – 0,5 ppt, bahkan beberapa lokasi melebihi angka tersebut.

 

Penggunaan garam untuk pengobatan.

Banyak yang menggunakan garam sebagai tindakan untuk pengobatan ikan dan beberapa literatur menyarankan demikian, garam dapat mengusir dan membunuh beberapa parasit dan jamur pada konsentrasi tertentu.  Untuk pengobatan diperlukan konsentrasi garam minimal 5 ppt keatas dan dengan jangka waktu tertentu, pengobatan dengan konsentrasi tersebut harus dilakukan di bak karantina karena jika dilakukan di kolam maka akan mengakibatkan ikan lain yang sehat akan ikut stress juga biota lain yang ada dikolam akan terganggu.  Penggunaan garam dengan konsentrasi rendah (dibawah 5 ppt)  kurang tepat karena parasit masih bisa bertahan dengan kadar garam yang rendah apalagi bakteri pathogen hampir sebagian besar mampu menyesuaikan kadar garam yang tinggi.   Penggunaan garam untuk pengobatan parasit paling efektif dilakukan melalui perendaman jangka pendek (short bath) dengan kadar garam yang tinggi di bak karantina.

Penggunaan garam untuk pengobatan dapat digunakan takaran sebagai berikut,

  1. Pengobatan parasit dan flukes pada insang atau sisik
    • Perendaman singkat 0,5 – 3 menit kedalam larutan garam 50 ppt
    • Perendaman singkat 10 – 30 menit dengan pengulangan menggunakan larutan garam 20-30 ppt
    • Perendaman 6 – 12 jam dengan pengulangan menggunakan larutan garam 10 – 15 ppt
  2. Pengobatan jamur Saproglina dan infeksi bakteri Flavobacterium
    • Perendaman panjang 12- 24 jam menggunakan larutan garam 3 – 6 ppt
    • Perendaman singkat 10 – 30 menit (tergantung ketahanan ikan) menggunakan larutan garam 20 – 30 ppt

 

Penggunaan garam untuk menangkal keracunan Nitrit.

Naiknya kadar nitrit dikolam dapat membahayakan ikan karena ikan akan terserang “Blood Brown Deseases” atau kadang disebut “ngurat” karena darah ikan berwarna coklat tua sehingga pembuluh darah akan terlihat jelas dari luar, jika didiamkan ikan akan mati dalam jangka waktu singkat.  Garam dapat ditambahkan kekolam jika ditemukan kadar nitrit (NO2) melebihi 0,1 ppm sebagai tindakan darurat.

Kadar garam yang disarankan  untuk menghindari keracunan Nitrit (dengan konsentrasi Chlorin=0) adalah,

  • Kadar NO2: 0,1 – 1,0  ppm, tambahkan 25 gr garam per 1000 liter air kolam
  • Kadar NO2 : 1,0 – 2,0 ppm, tambahkan 50 gr garam per 1000 liter air kolam
  • Kadar NO2 lebih dari 2,0 ppm, tambahkan 75 gr garam per 1000 liter air kolam

Jika air kolam mengandung Chlorine/Chloride maka dapat digunakan rumus sebagai berikut

Kadar garam (g/m3) = [ 6 x NO2 (mg/L) ] – [ Cl (mg/L) / 0.6 ]

 

Penggunaan garam untuk mencegah stress pada ikan

Garam sangat efektif untuk menanggulangi stress yang diakibatkan oleh proses handling dan pengiriman.  Gunakan kadar garam 3 -6 ppt untuk handling ikan yang baru diterima, dan gunakan kadar garam 5 – 8 ppt untuk air selama proses transportasi (pengiriman)

 

Dalam penggunaan garam agar dipahami benar bahwa:

  1. Ikan KOI tergolong ikan air tawar, air tanah sudah mengandung garam 0 – 0,5 ppt yang cukup untuk ikan hidup normal, penggunaan garam yang tidak terkendali akan menyebabkan stress ikan.
  2. Garam akan 100% terlarut didalam air dan akan tetap tinggal dikolam sehingga untuk menurunkannya harus melalui penggantian air (dripping), selain itu konsentrasi garam akan langsung menaikan angka TDS.
  3. Garam dapat menaikan PH air kolam terutama pada saat musim hujan, namun perlu diingat garam tidak menaikan alkalinitas kolam sehingga kenaikan PH hanya bersifat sementara saja.
  4. Garam sangat effektif untuk mengusir beberapa jenis parasit dan jamur namun kurang efektif untuk membunuh banyak bakteri karena pada umumnya bakteri dapat menyesuaikan salinitas dibanding ikan.
  5. Walaupun ikan KOI memiliki rentang toleransi salinitas yang lebar, pemberian garam harus dilakukan bertahap dengan kenaikan tidak melebihi 1 ppt/jam

 


Referensi

  1. Fernando Kubitza, Ph. D. | 2016 | “Common salt a useful tool in aquaculture” | Global quaculture Alliance.
  2. L. Swann ; S. Fitzgerald, DVM | 1914 | ” The Use and Application of Salt in Aquaculture” | Aquaculture Extention Program, Purdue University.
  3. Ruth Francis ; Floyd | 1995 | “The Use of Salt in Aquaculture” | Cooperative Extention Service, Institute of Food and Agricultural Sciences, University of Florida.
  4. Mamta Sharma ; Vaneet Inder Kaur ; Meera D.Ansal | 2017 | “Physiological Responsesof Freshwater Ornamental Fish Koi  Carp, Cyprinus carpio (L.) in Inland Saline Water: Growth and Haemotological Changes” | Indian Journal of Ecology

Editor: Drajat W | Created: 19/04/2021 | Last Update: 19/04/2021 |

Semua pertanyaan atas artikel ini silahkan disampaikan melalui Forum website ini dengan link:  https://koiart.net/community/umum/artikel-penggunaan-garam-untuk-koi/


 

Comments are closed.

error: Content is protected !!
WhatsApp us