Jl. Sutera Tiara 3 No.20, Alam Sutera, Tangerang, Banten 15143
(081) 11-00-99-33

Cara Praktis Membangun Kolam KOI

Membangun kolam KOI yang baik membutuhkan perencanaan yang matang agar memenuhi aspek estetika dan aspek teknis sehingga kolam tidak hanya tampak indah tetapi juga menghasilkan kualitas air yang sehat.    Banyak pehobi yang kurang memperhatikan aspek teknis ini sehingga pada saat mulai digunakan selalu bermasalah karena airnya kurang jernih atau ikan sering sakit.

Untuk merencanakan kolam yang benar secara teknis memang harus dihitung dengan teliti menggunakan pendekatan ilmu terapan yang banyak ditemukan di dunia maya kita tinggal mengikutinya saja.  Pada umumnya perencanaan kolam KOI secara teknis melibatkan beberapa faktor disain antara lain,

  1. Jumlah pakan Harian (Jumlah berat ikan yang akan dipelihara)
  2. Volume Biofilter yang dibutuhkan.
  3. Flow rate atau debit pompa yang digunakan.

Dari situ baru kita dapat menetapkan ukuran kolam dan ukuran chamber filter yang dibutuhkan.   Dalam sistem kolam sirkulasi tertutup atau RAS (Recirculating Aquaculture System) berlaku ketentuan  “jumlah pakan”, “Biofilter” dan “Pompa” merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam menentukan besarnya daya dukung ekosistem kolam.   Shingga jika kita sudah terjanjur membangun kolam tampa perencanaan yang matang maka kita tidak perlu membongkar kolam tetapi kita menyesuaikan jumlah ikan yang dipelihara sesuai kapasitas penguraian limbah pakan dari ekosistem kolam tersebut atau memperbesar kapasitas pompa.

Jika kita merencanakan kolam sesuai teori memang diperlukan pemahaman dan kesabaran tentu bagi yang awam hal ini menjadi cukup merepotkan,  namun masalah tersebut dapat disederhanakan tanpa mengorbankan performa kolam dengan menggunakan ketentuan empiris sesuai dengan uraian berikut ini.

Secara teknis kolam KOI dapat dibagi menjadi beberapa bagian penting yang memiliki fungsi tersendiri masing-masing antara lain,

  1. Kolam (Tank).
  2. Bak Filtrasi (Filter Chamber) .
  3. Pompa Sirkulasi
  4. Bottom Drain
  5. Skimmer

Proporsi dimensi masing-masing bagian dapat dilihat pada Gambar 1 dibawah ini,

Gambar 1: Bagan penataan kolam KOI

 

1 . Kolam / Tank

Bagian ini merupakan tempat dimana ikan KOI berada sehingga dimensinya harus memenuhi persyaratan ikan dapat bergerak dengan leluasa, kolam yang terlalu sempit akan mempengaruhi tumbuh kembang KOI disaat ukurannya bertambah panjang.   Secara sederhana ukuran kolam dapat direncanakan dengan kaidah berikut,

  • Panjang Kolam (P) min = 5 x panjang ikan
  • Lebar Kolam (L) min = 3 x panjang ikan
  • Kedalaman Kolam (T) min = 2 x panjang ikan

Disarankan volume kolam (tank) sekitar 60% – 70% dari total volume kolam dan filter.

Disamping dimensi yang cukup kolam juga harus memiliki permukaan yang halus agar tidak melukai ikan pada saat KOI menggesekan badan di dinding atau dasar kolam.    Sudut kolam disarankan tidak membentuk sudut tajam (siku) agar tidak menjadi tempat penumpukan kotoran.

Untuk estetika dan mencegah kebocoran kolam bagian dalam kolam dapat dicat menggunakan cat non toxid, untuk warna disarankan menggunakan warna gelap atau hitam agar warna ikan dapat muncul tajam.

 

2. Bak Filtrasi (Filter Chamber)

Bak filtrasi selain berfungsi sebagai tempat penyaring air kolam dari polutan atau limbah kotoran ikan dengan luas total 30% – 40% dari total volume kolam.   Proses penyaringan limbah umumnya dilakukan melalui beberapa tahapan filtrasi yang didasarkan pada jenis limbahnya, sehingga bak filter pada umumnya dibagi menjadi beberapa ruang (chamber) berisi media yang masing-masing memiliki fungsi  yang berbeda.   Beberapa fungsi ruang yang umum digunakan adalah,

  • Chamber untuk Filter Mekanis
  • Chamber untuk filter biologi
  • Chamber untuk filter kimia
  • Chamber untuk ruang Pompa.
  • Clarifier

*) Chamber Kimia, Chamber pompa dan Clarifier dapat digabung untuk menghemat tempat

Gambar 2: Skema susunan chamber filter sederhana

 

  • Filter Mekanis

Adalah bagian filter untuk menyaring partikel kotoran padat, cara kerja penyaringannya secara mekanis sehingga diperlukan media yang mampu untuk menyaring (berlubang).      Media yang digunakan harus mudah dibersihkan biasanya menggunakan brush, mat (japmat), jarring atau media dengan pori-pori besar lainnya.

Karena fungsinya menyaring kotoran padat maka filter mekanis harus diletakan di bagian terdepan dari system filtrasi agar partikel kotoran tidak masuk kedalam chamber yang lain.         Filter mekanis harus rajin dibersihkan secara periodic agar tidak terjadi sumbatan aliran air.

Media untuk Filter Mekanis
Brush (sikat) Sponge Japmat Matala Mat

Gambar 3: Beberapa contoh media mekanis

 

  • Filter Biologi

Filter biologi (biofilter) adalah bagian filter yang berfungsi mengurai limbah nitrogen yang terlarut dalam air.  Limbah nitrogen berasal dari ekses pakan yang diberikan, limbah tersebut umum disebut TAN (Total Amonium Nitrogen) yang terdiri dari Ammonium (NH4) dan Ammonia (NH3).

Ammonia (NH3) seratus kali berbahaya dari Amonium (NH4) kadar ammonia yang diijinkan boleh ada di kolam maksimum 0,02 ppm, kadar ammonia lebih dari yang disyaratkan akan mengakibatkan ikan stress dan mudah terserang penyakit dan kematian ikan.

Cara kerja biofilter adalah secara biologis yaitu dengan perantaraan bakteri pengurai melalui proses oksidasi.            Tahap pertama TAN akan diurai oleh bakteri Nitrosomas menjadi Nitrit (NO2) yang sangat berbahaya untuk ikan, tahap berikut Nitrit (NO3) akan diurai oleh bakteri Nitrobacter menjadi Nitrat (NO3) yang tidak berbahaya lagi buat ikan.

Bakteri-bakteri pengurai tersebut hidup secara berkoloni pada ruang atau pori-pori  yang ada pada media filter biologi.  Media filter biologi memiliki ruang untuk tempat bakteri hidup yang umum disebut Spesific Surface Area (SSA), semakin besar SSA suatu media semakin besar kapasitas biofilter mengurai limbah TAN.

Banyak media biologi yang berebar dipasaran berbahan dasar alami maupun sintetis dengan SSA yang bervariasi seperti yang ditunjukan pada table dibawah ini semakin tinggi SSA semakin besar kapasitas biofilter,

Media Filter Biologi
Batu Apung Batu Lava (Lavarock) Bio Ring
Bioball (Golf) Bioball (Rambutan) Kaldnes

Gambar 4: Beberapa contoh media biologi

Perkiraan nilai SSA dari Media Biologi

No. Bio Media SSA (m2/m3 ) POROSITY (%)
1 Kaldnes K1 (static) 400 80
Kaldnes K1 (Moving Bed) 1200 95
2 Bioball (Rambutan) 280 95
3 Bioball (Golf) 300 90
4 Japmat 200 90
5 Bioring 240 95
6 Crystal Bio 460 85
7 Bacteria House 400 95
8 Lavarock 250 90
10 Batu Apung 200 90
11 Koral 100 90
12 Kerikil 150 80
13 Pasir 3000 10

 

  • Filter Kimia

Filter kimia adalah bagian filter yang bekerja untuk menyaring senyawa berbahaya atau untuk memperbaiki parameter air melalui reaksi kimia.  Karena cara kerjanya berdasarkan reaksi kimia maka media kimia memiliki umur pakai atau batas kejenuhan sehingga diperlukan penggantian media secara periodik.

Beberapa contoh media kimia antara lain,

Oyster atau Karang Jahe : digunakan untuk menaikan alkalinitas pada air kolam jika sumber nya memiliki alkalinitas yang rendah, media ini juga dapat menaikan karbonat hardness (KH) dan PH.

Batu Zeolith : digunakan untuk menyerap ammonia berbahaya dan nitrit, umumnya digunakan pada saat set up (running) kolam baru dimana fungsi biofilter belum bekerja maksimal.

Arang (Activated Carbon) : digunakan untuk menyerap senyawa logam berbahaya seperti besi atau mangan dan juga menyerap bau tidak sedap dan warna.

 

Media Filter Kimia
Kulit Kerang Karang Jahe Zeolith Carbon Aktif

Gambar 5: Beberapa contoh  media kimia

 

  • Clarifier

Clarifier adalah bagian penjernih air dengan membunuh alga dan bakteri pathogen sehingga air yang masuk kekolam jernih dan bebas bakteri pathogen, yang umum digunakan adalah menggunakan sinar lampu ultra violet (UV-C).   Cara kerja sinar UV-C adalah dengan merusak struktur DNA menggunakan sinar gelombang pendek, karena cukup berbahaya maka jangkauan sinar harus dibatasi tidak boleh mengenai mata atau mengenai media biologi.

UV Clarifier

Gambar 6: Lampu UV-C untuk clarifier kolam

 

3. Pompa Sirkulasi

Dalam perhitungan biofilter pada sistem sirkulasi air tertutup (Recirculating Aquaculture System) besarnya Flowrate didasarkan kepada debit sirkulasi 1 putaran seluruh air yang berada dalam ekosistem kolam tersirkulasi dalam 1 jam.  Debit atau flowrate tersebut adalah netto dalam arti bebas dari kehilangan daya akibat headloss maupun hambatan instalasi pipa.  Dengan mengambil total losses dikompensasi sebesar satu kali volume kolam maka kita bisa menetapkan besarnya kapasitas pompa sebesar 2 kali volume kolam per-jam.

 

4. Bottom Drain

Bottom drain diambil dengan ukuran minimal 2 kali size output pompa dalam pengertian jika output pompa menggunakan output diameter 2 inch maka besarnya bottom drain bisa diambil sebesar 4 inch.  Penempatan Bottom Drain sangat menentukan kesehatan kolam jadi penempatan Bottom drain harus bersebrangan sisi dengan arah masuknya air supaya seluruh bagian air kolam dapat tersirkulasi dengan sempurna, jangan terjebak mitos bahwa Bottom Drain harus terletak di tengah kolam.  Harus diingat dalam memasang pipa Bottom drain kearah chamber harus rata dan tidak boleh ada tekungan keatas atau menanjak menuju chamber yang dapat mengakibatkan timbulnya endapan kotoran yang dapat membuat pipa mampet.

Berikut cara menentukan diameter Bottom Drain berdasarkan Diameter Output Pompa

CAP. POMPA DIA OUTPUT POMPA DIA. BD (minimal)
( LPH ) ( Inch ) ( Inch )
                    5.000<                              0,75                               1,50
                    6.000-8.000                              1,00                               2,00
                    8.000-9.000                              1,25                               2,50
                  9.000-12.000                              1,50                               3,00
                  12.000-15.000                              1,75                               3,50
                  15.000-20.000                              2,00                               4,00
                  20.000-25.000                              2,50                               5,00
                  25.000-30.000                               3,00                               6.00
                  30.000-35.000                             3,500                               2  x 4,00
dia. BD = 2 x  dia. Output Pompa
copyrights(C) 2017, KOI ART

 *) Untuk kapasitas lebih besar lagi  digunaka pipa bottom drain lebih dari satu

 

5. Skimmer

Skimmer berfungsi untuk menyerap debu atau kotoran yang melayang dipermukaan kolam.  Jumlah skimmer cukup satu buah  agar tidak mengurangi kemampuan Bottom Drain dalam mengisap kotoran didasar kolam. ditempatkan pada bagian salah satu sudut kolam di seberang water inlet atau dapat juga diletakan dibagian strategis lainnya.

 

 

6. Waterfall / Terjunan.

Terjunan (WF) merupakan bagian terpenting untuk arsitektur kolam, WF selain memiliki fungsi estetis juga berfungsi sebagai tempat air masuk kekolam.  Dalam merencanakan WF sebaiknya dihindari ketinggian yang terlalu tinggi sebab akan menurunkan head pompa yang bisa menurunkan kapasitas pompa secara signifikan.

 

7. Penghubung antar Chamber.

Bagian ini sering kurang mendapat perhatian padahal kesalahan menentukan luasan atau sistem dapat mengakibatkan air tekor.  Dimensi pipa/lubang antar chamber diambil 2 kali luas dari Bottom Drain misalnya menggunakan Bottom Drain berukuran 4 inch yang memiliki luasan sekitar 80 cm2 maka lubang antar chamber dapat dibuat seluas minimal 160 cm2, jika kita hendak menggunakan pipa maka dicari diameter pipa yang total ukuran luasnya sebesar itu.   Agar diperhatikan penggunaan pipa ukuran kecil dan instalasi pipa yang panjang akan mengurangi head yang akan menyebabkan penurunan permukaan air chamber dengan permukaan air di chamber sebelumnya.

 

Selamat mencoba……

 


Referensi

  1. Michael Timmons ; James Ebeling | 2010 | “Recirculating Aquaculture” | New York, US: NRAC publication
  2. D.Bartlett and Patricia Bartlett | 2007 | “Koi for Dummies” | Wiley Publishing, Inc
  3. Burt Ballou | 2001 | “Pond Design Section” | Koi Health Advisor Course
  4. Don Horrawood | 2000 | “Koi Pond Beginners Guide” | Shoutwest Koi and Pond Association (SKAPA)
  5. “Pond Building and Design” | Sierra Water Garden

Editor: Drajat W   | Created: 15/02/2021 | Last Update: 15/02/2021 |

Semua pertanyaan atas artikel ini silahkan disampaikan melalui Forum website ini dengan link: Aertikel: “Cara Praktis Membangun Kolam KOI” – Disain Kolam KOI – KOI ART Forum


 

Comments are closed.

WhatsApp us